Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,338 • USD → IDR Beli: 13,352
  • EUR → IDR Jual: 14,126 • EUR → IDR Beli: 14,145
  • HKD → IDR Jual: 1,718 • HKD → IDR Beli: 1,720
  • JPY → IDR Jual: 117 • JPY → IDR Beli: 117
  • AUD → IDR Jual: 10,210 • AUD → IDR Beli: 10,226
  • SGD → IDR Jual: 9,371 • SGD → IDR Beli: 9,387
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 523,000
  • Perak Jual → 10,900
  • Update Tanggal 07-03-2017

Dorong Kesejahteraan, PT BSI Bantu Ribuan Benih Cabai Jamu Pada Petani

Home / Ekonomi / Dorong Kesejahteraan, PT BSI Bantu Ribuan Benih Cabai Jamu Pada Petani
Dorong Kesejahteraan, PT BSI Bantu Ribuan Benih Cabai Jamu Pada Petani Senior Manager External Affairs PT BSI, Bambang Wijonarko, menyerahkan secara simbolis bantuan 5000 bibit cabai jamu dari program CSR bidang pemberdayaan masyarakat. (Foto : Syamsul Arifin/ TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – PT Bumi Suksesindo (PT BSI), selaku operator tambang emas Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi, Jawa Timur, terus mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar. 

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bidang pemberdayaan masyarakat, mereka memberikan 5000 benih cabai jamu (Piper retrofractum Vahl) kepada Kelompok Tani (Poktan) ‘Rukun Makmur’ di Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran.

Bantuan budidaya cabai yang biasa dijadikan bahan jamu tradisional ini memang disambut gembira. Ini karena budidaya cabai jamu sangat menguntungkan. Perkilo, cabai jamu kering bisa mencapai harga Rp 30 ribu hingga Rp 75 ribu.

penanaman-simbolis-cabai-jamuACfXr.jpgSenior Manager External Affairs PT BSI, Bambang Wijonarko (kiri) dan Corporate Communication Manager PT BSI, Teuku Mufizar Mahmud (kanan) melakukan penanaman simbolis cabai jamu. (Foto: Syamsul Arifin/ TIMES Indonesia)

“Harganya mahal, dan tentunya bisa meningkatkan penghasilan. Makanya saya tanam seperempat hektar,” ucap Murkamto, salah satu petani pembudidaya cabai jamu anggota Poktan ‘Rukun Makmur’, Rabu (26/7/2017).

Cabai jamu ini, lanjutnya, sudah hampir punah diwilayah Kecamatan Pesanggaran. Padahal sebelumnya, tanaman ini telah dikembangkan oleh warga setempat sejak masa penjajahan Belanda. Dan masa keemasan budidaya cabai jamu masa lalu itulah yang mendorong masyarakat untuk kembali menggeliatkan. Akhirnya, sekitar dua tahun lalu pertanian cabai jamu kembali digeluti warga sekitar tambang emas terbesar kedua di Indonesia tersebut.

“Jumlahnya ada sekitar 13 orang, kemudian membentuk Kelompok Tani ‘Rukun Makmur’,” katanya.

Budidaya cabai jamu naik daun di wilayah ini, karena perawatannya cukup mudah. Biaya operasional juga ringan, lantaran tidak membutuhkan pestisida. Cukup hanya dengan pemupukan dengan kompos secara rutin. Dan setelah 8 bulan, masa panen bisa berjalan sepanjang tahun, setiap 10 sampai 15 hari sekali.

Berita Terkait

Komentar

301 Moved Permanently

Moved Permanently

The document has moved here.

Terpopuler

Top
Wawanita.com satriamedia.com