Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,338 • USD → IDR Beli: 13,352
  • EUR → IDR Jual: 14,126 • EUR → IDR Beli: 14,145
  • HKD → IDR Jual: 1,718 • HKD → IDR Beli: 1,720
  • JPY → IDR Jual: 117 • JPY → IDR Beli: 117
  • AUD → IDR Jual: 10,210 • AUD → IDR Beli: 10,226
  • SGD → IDR Jual: 9,371 • SGD → IDR Beli: 9,387
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 523,000
  • Perak Jual → 10,900
  • Update Tanggal 07-03-2017

Desa di Banyuwangi Diharap Mampu Urusi Sampah Sendiri

Home / Peristiwa / Desa di Banyuwangi Diharap Mampu Urusi Sampah Sendiri
Desa di Banyuwangi Diharap Mampu Urusi Sampah Sendiri Kegiatan masyarakat Banyuwangi di sungai. (Foto: A.Suudi/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Budaya lama di masyarakat yang membuang sampah dan limbah rumah tangga di sungai membuat upaya menciptakan kali bersih di kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur terhambat.

Kepada TIMES Indonesia, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan agar kebersihan sungai dari hulu ke hilir menjadi perhatian bersama. Kondisi yang terjadi sekarang hampir setiap sungai dijadikan tempat mandi-cuci-kakus (MCK) warga, beberapa sungai bahkan menjadi pembuangan limbah industri.

“Sudah sejak zaman dulu apa-apa dibuang ke sungai. Ada proses pendidikan tidak langsung ketika orang tua menyuruh anak membuang sampah ke sungai, yang menimbulkan pemahaman bahwa sungai adalah tempat sampah. Ini akan teringat terus sehingga sampai dewasa, anak tetap membuang sampah ke sungai,” kata Anas, Jumat (14/4/2017).

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Ka-DLH) Banyuwangi Husnul Chotimah mengatakan, diharapkan pemerintah desa mampu mengatasi sampah di sungai dan di lingkungan rumah penduduk, di wilayah masing-masing. Cara yang disarankan adalah dengan menyediakan lahan seluas minimal 1000 meter persegi untuk Tempat Pengelolaan Sampah (TPS).

“Satu-satunya desa yang memiliki TPS mandiri sekarang adalah Desa Tembokrejo di Kecamatan Muncar. Kalau Tembokrejo saja bisa, pasti 188 desa yang lain juga bisa,” tutur Husnul.

Tanah yang disediakan untuk lahan TPS bisa berukuran minimal seribu meter persegi, hingga 3 ribu persegi. Biaya operasional pengelolaan sampah bisa dari tarikan retribusi warga Rp 2.500 hingga Rp 10 ribu per bulan, di Desa Tembokrejo juga ditambah dari Dana Desa sebesar Rp 93 juta per tahun.

“Kami bukan lepas tangan, tapi ini masalah bersama, sampah ada karena kita ada, bukan karena orang lain. Maka kita semua harus ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah. Bagian kota akan kita kelola, kami harap di desa-desa dikelola sendiri di TPS mandiri masing-masing,” kata Husnul. (*)

Berita Terkait

Komentar

301 Moved Permanently

Moved Permanently

The document has moved here.

Terpopuler

Top
Wawanita.com satriamedia.com